Meksiko Bergejolak, Nasib Piala Dunia 2026 Terancam?

Meksiko Bergejolak, Nasib Piala Dunia 2026 Terancam?

Sebagai salah satu dari tiga penyelenggara Piala Dunia 2026, Meksiko kini menjadi sorotan global akibat gelombang kekerasan yang merebak menyusul tewasnya gembong kartel Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho.

Di tengah hitung mundur menuju kick-off yang tinggal beberapa bulan lagi, stabilitas keamanan di salah satu negara tuan rumah tersebut dipertanyakan oleh banyak pihak.

Kematian pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generación (CJNG) dalam operasi militer di Tapalpa, sekitar dua jam dari Guadalajara, memicu reaksi brutal dari jaringan kriminal yang dipimpinnya.

Dampaknya tidak hanya terasa pada aspek keamanan nasional, tetapi juga berimbas langsung pada dunia olahraga, termasuk kesiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Meksiko.

Kronologi Operasi Militer dan Gelombang Kekerasan

Sekretariat Pertahanan Nasional Meksiko menyatakan bahwa Nemesio Ruben Oseguera Cervantes terluka dalam baku tembak dengan pasukan militer di Tapalpa, negara bagian Jalisco, sebelum akhirnya meninggal dunia saat diterbangkan ke Mexico City.

Operasi tersebut disebut mendapat informasi pendukung dari otoritas Amerika Serikat. Dalam penggerebekan itu, empat anggota CJNG tewas di lokasi, dua lainnya meninggal saat pemindahan, dan dua tersangka berhasil ditangkap.

Aparat juga menyita kendaraan lapis baja, peluncur roket, serta berbagai jenis senjata, sementara tiga personel militer dilaporkan mengalami luka.

Namun, keberhasilan aparat tersebut segera dibalas dengan aksi kekerasan terkoordinasi di berbagai wilayah.

Anggota kartel membakar kendaraan, memblokade jalan raya utama, dan mendirikan penghalang api di sejumlah negara bagian seperti Jalisco, Colima, Michoacan, Nayarit, Guanajuato, hingga Tamaulipas. Situasi ini menyebabkan gangguan besar terhadap aktivitas masyarakat dan mobilitas antarkota.

Guadalajara, ibu kota Jalisco sekaligus salah satu kota tuan rumah Piala Dunia, berubah menjadi kota yang nyaris lumpuh pada malam hari.

Warga diminta tetap berada di rumah setelah status siaga merah diberlakukan. Transportasi umum dihentikan, sekolah diliburkan di sejumlah wilayah, dan berbagai kegiatan publik dibatasi.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepanikan di bandara Guadalajara serta asap tebal membumbung di Puerto Vallarta.

Dampak Langsung terhadap Dunia Sepak Bola

Gelombang kekerasan tersebut segera berdampak pada kalender kompetisi domestik. Empat pertandingan profesional dibatalkan, termasuk laga papan atas di liga pria dan wanita.

Pertandingan antara Querétaro melawan Juárez FC serta duel Chivas kontra América di liga wanita turut ditunda sebagai langkah pencegahan. Dua pertandingan divisi kedua juga mengalami nasib serupa.

Selain itu, laga persahabatan tim nasional Meksiko melawan Islandia di Querétaro sempat berada dalam ketidakpastian. Meski belum resmi dibatalkan, potensi penundaan atau relokasi tetap terbuka apabila situasi keamanan belum sepenuhnya stabil.

Pada sisi lain, tidak semua agenda olahraga terdampak. Turnamen tenis Mexican Open di Acapulco tetap dijadwalkan berlangsung sesuai rencana. Kendati demikian, rangkaian insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran luas mengenai kesiapan Meksiko sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Kota Tuan Rumah dalam Tekanan

Meksiko dijadwalkan menggelar 13 pertandingan Piala Dunia 2026 yang tersebar di Mexico City, Monterrey, dan Guadalajara. Stadion ikonik di ibu kota direncanakan menjadi lokasi laga pembuka, sementara Guadalajara akan menggelar empat pertandingan termasuk laga yang melibatkan tim-tim besar.

Namun, hanya satu akses jalan utama menuju Stadion Akron di Guadalajara menjadi perhatian tambahan setelah sebuah bus yang terbakar sempat memblokir jalur tersebut. Situasi ini memperlihatkan bagaimana gangguan keamanan dapat secara langsung menghambat akses menuju venue pertandingan.

Kekhawatiran semakin meningkat karena kekerasan tidak terbatas pada satu wilayah, melainkan meluas ke hampir 20 negara bagian. Setidaknya 25 anggota Garda Nasional dilaporkan tewas dalam kurun 24 jam pertama eskalasi konflik. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kemampuan otoritas menjaga stabilitas menjelang Piala Dunia.

Operasi terhadap El Mencho terjadi di tengah tekanan politik dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat yang mendesak peningkatan penindakan terhadap perdagangan narkotika. Bahkan, kartel telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Washington, sementara puluhan tokoh kriminal telah diekstradisi.

Mengutip dari Al Jazeera, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Christopher Landau menyambut operasi tersebut sebagai perkembangan besar bagi Meksiko, Amerika Serikat, Amerika Latin, dan dunia.

Dilansir dari BBC, asisten profesor hukum pidana di University of Nottingham, Javier Eskauriatza, memberikan penilaian yang berbeda bahwa tewasnya pemimpin utama dapat memicu kekosongan kekuasaan dan perebutan pengaruh internal, yang justru berpotensi memperpanjang periode instabilitas.

Sementara itu, pemerintah Meksiko menegaskan adanya koordinasi penuh dengan seluruh pemerintah daerah serta penguatan protokol keamanan. Rencana penambahan ribuan kamera pengawas, kendaraan patroli baru, hingga teknologi pencegah drone telah disiapkan untuk mendukung keamanan selama Piala Dunia berlangsung.

Risiko Keamanan Menuju Piala Dunia 2026

Melansir dari BBC, dosen kriminologi UWE Bristol, Karina Garcia-Reyes, menilai bahwa respons keras kartel merupakan bagian dari dinamika kekuasaan di dalam organisasi kriminal.

Pada sisi lain, ada pandangan bahwa kelompok tersebut memiliki kepentingan ekonomi agar turnamen berjalan aman, mengingat keterlibatan mereka dalam berbagai sektor bisnis lokal seperti restoran dan perhotelan.

Meski demikian, risiko tetap ada. Akses senjata berat dan kemampuan logistik yang dimiliki kartel meningkatkan potensi konfrontasi berskala militer.

Mantan kepala operasi internasional Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat, Mike Vigil, menegaskan pada Al Jazeera bahwa pemerintah tidak cukup hanya menargetkan pimpinan kartel, tetapi juga harus menghancurkan infrastruktur keuangan, jaringan distribusi, serta sayap bersenjata mereka secara cepat dan efisien.

Pemerintah Amerika Serikat telah mengimbau warganya di Jalisco dan sejumlah negara bagian lain untuk tetap berada di tempat aman, sementara Kanada juga menerbitkan peringatan perjalanan dan membatalkan sejumlah penerbangan ke Puerto Vallarta.

Maskapai seperti Air Canada, United Airlines, dan American Airlines turut menangguhkan layanan menuju Puerto Vallarta dan Guadalajara. Citra internasional Meksiko pun menjadi sorotan, terutama ketika gambar-gambar kerusuhan tersebar luas menjelang Piala Dunia.

Meksiko memiliki sejarah sukses sebagai tuan rumah Piala Dunia pada 1970 dan 1986. Edisi 2026 yang diperluas menjadi 48 tim awalnya dipandang sebagai momentum bersejarah bagi kawasan Amerika Utara. Namun, perkembangan terbaru menempatkan persiapan turnamen di persimpangan antara optimisme dan kekhawatiran.

Sebagian pihak berharap kekerasan ini hanya merupakan reaksi sesaat yang akan mereda seiring restrukturisasi internal kartel. Namun, ada pula risiko bahwa kekosongan kepemimpinan memicu konflik berkepanjangan antar faksi, sebagaimana pernah terjadi pada kasus lain di masa lalu.

Pada akhirnya, keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Meksiko sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menstabilkan situasi keamanan dalam waktu singkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *