Cinta dan Pengorbanan Hali Long untuk Filipina

Kisah Hali Long adalah tentang cinta pada akar budaya, pengorbanan tanpa pamrih, dan keyakinan bahwa Filipina bisa kembali menembus Piala Dunia Wanita FIFA.
Hali Long pays tribute to current and former teammates

  • Long merefleksikan identitas, pengorbanan, dan tonggak sejarah dalam balutan seragam Filipina

  • Ia berharap dapat menginspirasi generasi pesepakbola wanita masa depan di negaranya

  • Sang bek berbicara secara eksklusif kepada FIFA menjelang kampanye kualifikasi Brasil 2027

Bagi Hali Long, mengenakan seragam Filipina tidak pernah semata soal sepak bola. Ini tentang keluarga, identitas, pengorbanan—dan pada akhirnya, tentang warisan.

Lahir di Cape Girardeau, Missouri, Long tumbuh jauh dari Filipina secara geografis, tetapi sejak kecil telah tertanam kuat dalam budaya asal keluarganya. Ia dibesarkan oleh seorang ibu tunggal bersama dua saudara perempuannya, dengan lola (nenek) dan tita (bibi) tinggal di bawah satu atap. Rumah masa kecilnya di Amerika Serikat terasa sangat Filipina.

“Pada dasarnya ada enam perempuan Filipina di rumah kami di Amerika, jadi saya tidak pernah merasa itu berbeda,” ujar Long kepada FIFA. “Rumah kami sangat Pinoy—hanya saja berada di Amerika.”

Tahun-tahun awal itu secara perlahan membentuk rasa memiliki yang kuat. Baru di kemudian hari, kenangan-kenangan sederhana mulai terasa bermakna—bekal sekolah berupa sinigang, tinola, atau apel hijau dengan bagoong yang kala itu tak ia anggap istimewa.

“Saya baru menyadari jauh belakangan bahwa saya adalah anak di sekolah yang membawa ‘makanan berbau’,” katanya. “Saat itu, semuanya terasa normal bagi saya.”

Rasa ‘normal’ yang sama ia bawa ke dalam sepak bola. Olahraga ini baginya adalah passion, tetapi bukan sesuatu yang ia anggap pasti menjadi masa depan. Ketika kesempatan pertama untuk mengikuti seleksi tim nasional wanita Filipina datang saat ia masih remaja, Long memilih untuk menolak—mendahulukan pendidikan di atas ketidakpastian, sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan ibunya.

AUCKLAND, NEW ZEALAND - JULY 30: Hali Long of Philippines looks on during the FIFA Women's World Cup Australia & New Zealand 2023 Group A match between Norway and Philippines at Eden Park on July 30, 2023 in Auckland / Tāmaki Makaurau, New Zealand. (Photo by Hannah Peters - FIFA/FIFA via Getty Images)

Saat akhirnya ia benar-benar bergabung dengan tim nasional beberapa tahun kemudian, tepatnya pada Juni 2016, realitas yang dihadapi jauh dari sorotan dan kemewahan.

Bab-bab awal karier internasional Long lebih banyak diwarnai kesulitan ketimbang sorotan. Keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan, dan pengorbanan pribadi yang konstan menjadi bagian dari proses pembentukan tim.

“Kami tidak punya training kit. Kami mencuci baju sendiri dengan tangan,” kenang pemain yang kini berusia 31 tahun tersebut. “Saya kembali ke Amerika untuk bekerja sambil menjadi mahasiswa dan atlet penuh waktu, hanya supaya bisa mengikuti pemusatan latihan.”

Waktu, uang, dan kenyamanan ditukar dengan keyakinan. Dan keyakinan itulah—yang dibangun bersama—perlahan menciptakan sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar infrastruktur.

“Saya mengorbankan banyak hal untuk bisa bermain,” kata Long. “Tapi setiap pengorbanan itu sepadan. Saya akan melakukannya lagi dan lagi karena semua yang saya dapatkan dari tim nasional.”

Terobosan besar datang pada 2022, ketika Filipina menjadi tuan rumah—dan juara—Piala AFF Wanita. Untuk pertama kalinya, tim ini melangkah ke partai final. Mencapainya di kandang sendiri membuat momen tersebut terasa semakin istimewa.

“Itu adalah pertama kalinya kami mencapai final kejuaraan, dan melakukannya di kandang sendiri terasa sangat menyenangkan,” ujar Long. “Secara fisik dan emosional, itu adalah salah satu tugas terberat yang pernah saya jalani.”

AUCKLAND, NEW ZEALAND - JULY 15: Hali Long of Philippines poses during the official FIFA Women's World Cup Australia & New Zealand 2023 portrait session on July 15, 2023 in Auckland, New Zealand. (Photo by Greg Bowker - FIFA/FIFA via Getty Images)

Jadwal padat, perjalanan panjang, dan tekanan ekspektasi menguji ketahanan tim. Namun mereka keluar dari turnamen itu bukan hanya sebagai juara, melainkan sebagai penantang serius.

Momentum tersebut berlanjut ke SEA Games, di mana kemunduran awal dan masalah kesehatan di dalam tim kembali menuntut daya tahan mental.

“Kami kalah di laga pembuka, dan itu berat karena kami tahu seharusnya bisa menang,” kata Long. “Tapi justru dari situ kami terdorong.”

Gol-gol di menit akhir, momen-momen penentuan, dan penolakan untuk sekadar puas akhirnya berujung pada medali emas—serta perubahan cara pandang.

“Kami sudah melewati fase hanya bersyukur bisa berada di sana,” ujarnya. “Kami harus mulai percaya bahwa kami memang pantas berada di level ini.”

Lalu tibalah momen yang mengubah wajah sepak bola wanita Filipina di panggung global: Piala Dunia Wanita FIFA 2023. Bagi Long, emosi yang hadir begitu kompleks—antara kebanggaan, tekanan, kegembiraan, dan refleksi.

“Itu sangat emosional—baik dan buruk,” katanya. “Saya rasa itu terlihat di foto dan video. Kadang emosi saya mengambil alih.”

Sejarah pun tercipta: penampilan pertama, gol dan kemenangan pertama tim. Namun di balik pencapaian tersebut, ambisi tetap menyala.

“Kami mencapai banyak ‘yang pertama’,” ujarnya. “Tapi jauh di dalam, kami belum sepenuhnya mencapai rencana yang kami tetapkan.”

Kini, dengan lebih dari 100 caps internasional, Long membawa pengalaman yang melintasi berbagai generasi tim nasional. Saat ditanya bagaimana ia melihat perkembangan dirinya sejak awal karier, ia justru menjauh dari sorotan individu.

“Karier saya—saya tidak terlalu suka membicarakan diri sendiri,” katanya. “Saya lebih melihat bagaimana saya berkembang di dalam tim. Dari sisi karakter, tentu juga secara fisik.”

Sebagai salah satu pemain senior, bek tengah berpengalaman sekaligus kapten tim, fokusnya kini tertuju pada kesinambungan dan tanggung jawab.

“Saya termasuk salah satu pemain yang lebih tua di tim,” lanjutnya. “Saya hanya ingin menjadi sosok seperti yang dulu diajarkan oleh rekan-rekan setim saya.”

“Rekan setim saya dulu sudah berbeda dengan sekarang, tapi tugas saya adalah meneruskan apa yang saya pelajari, karena itulah arti berada di tim nasional.”

Rasa tanggung jawab itu kini membingkai tantangan berikutnya.

Filipina akan tampil di Piala Asia Wanita AFC pada 1-21 Maret mendatang dan tergabung di Grup A bersama Australia, Korea Selatan, dan Iran. Grup yang berat, semakin krusial karena turnamen ini kembali menjadi jalur kualifikasi menuju Piala Dunia Wanita FIFA yang akan digelar di Brasil 2027.

Namun kali ini, Filipina datang dengan pijakan sejarah—setelah mencatat prestasi terbaik mereka di edisi sebelumnya dengan finis sebagai semifinalis, pencapaian tertinggi sepanjang sejarah partisipasi mereka di Piala Asia.

Long, yang kini merumput di Thailand bersama College of Asian Scholars, menyambut tantangan itu dengan realisme dan keyakinan yang tenang.

“Saya sampai tidak bisa tenang memikirkannya, karena ini selalu tugas yang berat,” katanya. “Piala Asia—begitu banyak variasi dan gaya bermain. Ada Asia Timur, Asia Barat, Asia Tenggara, semuanya berebut satu tempat.”

Bagi Long, keragaman Asia itulah yang membuat turnamen ini menawarkan banyak tingkat kesulitan. Baginya, setiap laga adalah ujian berbeda dan setiap poin harus diperjuangkan.

“Ini sangat sulit,” ujarnya. “Semua tim bekerja keras untuk posisi itu, dan tentu saja kami ingin kembali ke Piala Dunia.”

Bagi para pemain muda Filipina yang menyaksikan dari Manila, Mindanao, atau dari komunitas diaspora di berbagai belahan dunia, perjalanan Long menjadi bukti bahwa identitas bisa menjadi kekuatan, pengorbanan bisa membentuk keberhasilan, dan keyakinan mampu membawa sebuah bangsa melangkah lebih jauh.

“Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini,” katanya. “Untuk mewakili negara saya, keluarga saya, dan seluruh kababayan [rekan-rekan senegara] di seluruh dunia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *