Mantan gelandang andalan mengenang Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dan mengevaluasi peluang tim saat ini untuk lolos melalui Turnamen Play-off FIFA.
-
Bolivia akan berhadapan dengan Suriname di babak semifinal Turnamen Play-off FIFA
-
Tim CONMEBOL ini berupaya meraih tiket ke Piala Dunia pertama mereka sejak Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat
-
Melgar yakin kualifikasi akan memberikan dampak besar bagi sepak bola negara tersebut
Momen Bolivia memastikan tempatnya di Turnamen Play-Off Piala Dunia FIFA 2026 disambut dengan euforia yang tak terkendali di seluruh negara Amerika Selatan tersebut. Hal ini berarti sangat besar bagi tim asuhan Oscar Villegas, yang memimpikan membawa tim nasional ke turnamen terbesar FIFA setelah absen selama 32 tahun.
Bolivia berhasil meraih tiket ke babak play-off antarbenua berkat kemenangan 1-0 atas Brasil di putaran final kualifikasi CONMEBOL pada September lalu. La Verde, yang finis di posisi ketujuh klasemen, mengalami perjalanan yang penuh liku-liku di babak kualifikasi kontinental, yang dimulai dengan empat kekalahan beruntun yang mengkhawatirkan.
Pasukan Villegas mencatatkan rekor sepuluh kekalahan, enam kemenangan, dan dua hasil imbang. Namun, rekor yang tidak konsisten itu kini hanyalah catatan kaki belaka, karena tim tersebut tengah bersiap untuk babak playoff antarbenua yang akan digelar pada Maret mendatang. Di babak semifinal Jalur 2, mereka akan berhadapan dengan Suriname, yang akan debut di Piala Dunia, dengan Irak menanti pemenangnya.
Mencapai babak playoff menjadi alasan untuk merayakan tidak hanya bagi para pendukung setia negara tersebut, tetapi juga bagi para pemain legendaris yang membantu membangun fondasi kesuksesan tersebut. Warisan mereka diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Milton Melgar, pilar tim yang mewakili Bolivia di Piala Dunia 1994, yang merupakan kali terakhir negara tersebut tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Tim yang diperkuat oleh pemain seperti Carlos Borja, Marco Etcheverry, Gustavo Quinteros, dan Marco Sandy tampil cukup baik di Grup C, tetapi gagal lolos setelah kalah 1-0 dari Jerman, imbang tanpa gol melawan Korea Selatan, dan kalah 3-1 dari Spanyol.
Melgar, 66 tahun, duduk bersama FIFA untuk merefleksikan makna prestasi generasi mereka, penampilan Bolivia di Amerika Serikat lebih dari tiga dekade lalu, dan mengevaluasi apa arti kualifikasi kali ini.
FIFA: Apa yang membuat tim Bolivia dari AS 1994 begitu istimewa?
Milton Melgar: Saya pikir banyak faktor yang berperan. Di atas segalanya, ada kombinasi yang baik antara pemain muda dan berpengalaman dalam tim. Pemain muda yang kami miliki pada kualifikasi 1993 sudah pernah bermain di Copa America CONMEBOL dan kualifikasi Piala Dunia. Mereka sudah memiliki banyak pengalaman bertanding di level internasional.
Meskipun semua itu sangat penting, kepemimpinan yang kuat juga terbukti menentukan, dan adanya [Xabier] Azkargorta sebagai pelatih kepala membuat perbedaan besar. Persiapan kami melibatkan sejumlah kamp latihan, pertandingan persahabatan, dan pertemuan di pusat-pusat pelatihan berstandar tinggi di Eropa. Semua elemen tersebut sangat krusial dalam mencapai tujuan kami.
Apa yang Anda ingat tentang turnamen itu?
Terkadang kamu tidak bisa menyerap semuanya karena emosi begitu tinggi saat berada di lapangan, tapi aku masih ingat beberapa hal tentang Piala Dunia itu. Saat kami menghadapi Jerman dalam pertandingan pembuka turnamen di Chicago, semua orang terbawa dalam kegembiraan yang luar biasa. Saat kami berlari ke lapangan, kami melihat begitu banyak bendera Bolivia. Itu tidak terduga karena itu adalah kali pertama kami lolos ke Piala Dunia berdasarkan prestasi. Bertanding melawan juara dunia saat itu, dari semua tim, adalah hal yang luar biasa. Kami pikir tribun akan dipenuhi oleh pendukung Jerman, tapi kami terkejut melihat lautan bendera Bolivia.
Ketika Anda memikirkan kembali kampanye tim, apa yang terlintas di benak Anda?
Kenyataannya, kami dihargai atas semua kerja keras yang telah kami lakukan dalam persiapan. Kami berhadapan langsung dengan semua lawan yang kami temui. Kami menghadapi Jerman, salah satu raksasa sepak bola dunia, dan ketika saya menonton ulang pertandingan tersebut, saya merasa kami lebih dari sekadar bertahan. Saya benar-benar memiliki kenangan indah dari ketiga pertandingan tersebut karena kami selalu berusaha untuk mengambil inisiatif. Kami bukan tim Bolivia yang diharapkan semua orang untuk hanya bertahan atau sekadar mengisi kuota.
Bagaimana pendapat Anda tentang para pemain Bolivia saat ini?
Jika kita berhasil lolos ke Piala Dunia, generasi muda Bolivia akan mendapatkan manfaat dari pengalaman tak ternilai yang akan diberikan. Bagaimanapun, seperti yang selalu saya katakan sejak pertama kali terjun ke dunia sepak bola, Bolivia belum pernah menjadi favorit. Hanya ada sedikit pertandingan, dan hanya dalam periode singkat di dalamnya, ketika kita bisa secara realistis dianggap sebagai pilihan untuk menang. Kita tidak boleh menganggap remeh babak playoff, jadi kita harus bekerja keras, mendekati kompetisi dengan kerendahan hati, dan memberikan segalanya.
Jika Bolivia lolos, apa warisan yang akan ditinggalkannya?
Daripada fokus pada warisan, saya pikir jika kita berhasil lolos ke Piala Dunia, kita harus memanfaatkan kesempatan ini dari segi ekonomi dan olahraga, serta menggunakan momentum tersebut sebagai landasan untuk mengembangkan pemain-pemain kita untuk Piala Dunia dan kualifikasi di masa depan. Itulah kuncinya. Warisan sejati akan datang dari teladan yang ditunjukkan oleh para pemain muda ini, di mana usaha mereka dapat menjadi sumber motivasi yang kuat bagi talenta-talenta muda negara ini.
