Kesempatan terakhir untuk meraih tempat di Piala Dunia FIFA 2026 telah tiba bagi Bolivia, RD Kongo, Jamaika, Irak, Kaledonia Baru, dan Suriname.
-
Turnamen Play-Off Piala Dunia FIFA 2026 dimulai pada 26 Maret
-
Enam tim akan bersaing memperebutkan dua tempat di putaran final global
-
New Caledonia and Suriname are each targeting a maiden World Cup
Setelah beberapa tahun berjuang melewati pasang surut kualifikasi, enam tim kini akan berupaya mewujudkan impian mereka pada Turnamen Play-Off Piala Dunia FIFA 2026.
Guadalajara Stadium dan Monterrey Stadium, yang juga menjadi venue Piala Dunia 2026, akan menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan, dimulai dengan babak semi-final pada 26 Maret dan final pada 31 Maret.
Pemenang dari setiap laga final akan melaju ke putaran final global yang digelar pada Juni dan Juli di Amerika Utara. Di sini, FIFA meninjau tim-tim yang terlibat serta jalur yang dapat mereka tempuh untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia.
Kaledonia Baru
Tim kepulauan Pasifik ini menargetkan kelolosan ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, serta berharap dapat bergabung dengan sesama wakil OFC, Selandia Baru, di ajang global tersebut. Kaledonia Baru mencapai Turnamen Play-Off berkat status runner-up pada kualifikasi OFC, setelah menundukkan Tahiti 3-0 di semi-final putaran ketiga sebelum kalah dengan skor yang sama dari All Whites di partai final.
Pelatih kepala Johann Sidaner memiliki sejumlah pemain berbahaya, khususnya trio dinamis Georges Gope-Fenepej, Germain Haewegene, dan Joseph Athale, dengan dua nama terakhir telah menjadi rekan setim di Tahiti United selama enam bulan terakhir. Gope-Fenepej dan Athale masing-masing mencetak tiga gol dalam kualifikasi OFC. Sosok lain yang memperkuat Les Cagous adalah Angelo Fulgini, mantan pemain tim nasional usia muda Prancis yang berpeluang melakoni debutnya bersama Kaledonia Baru di Guadalajara.
Jamaika
Reggae Boyz menargetkan kelolosan kedua mereka ke Piala Dunia dan yang pertama sejak Prancis 1998, setelah finis sebagai runner-up grup pada putaran final kualifikasi Concacaf. Jamaika nyaris mengamankan tiket, namun harus puas dengan hasil imbang tanpa gol melawan Curacao pada pertandingan terakhir. Situasi tersebut membuka jalan bagi Rudolph Speid untuk mengambil alih sebagai pelatih interim menyusul kepergian Steve McClaren.
Sebagai sosok yang terbukti sukses di kompetisi domestik maupun klub Karibia, Speid memimpin timnya meraih dua kemenangan uji coba tanpa kebobolan atas Grenada (1-0) dan Martinique (2-0) pada Januari, dengan sebagian besar pemain berbasis di Jamaika. Namun, di Meksiko, pemain-pemain yang berkarier di Eropa seperti Renaldo Cephas, Demarai Gray, dan Leon Bailey diperkirakan akan menjadi sumber daya utama yang memberi kemampuan pembeda bagi tim Karibia tersebut.
RD Kongo
Satu-satunya wakil CAF di Turnamen Play-Off ini akan menunggu pemenang laga Kaledonia Baru vs Jamaika, dengan target kembali tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974 (saat masih berlaga dengan nama Zaire). RD Kongo finis sebagai salah satu dari empat runner-up terbaik dalam kualifikasi CAF, kemudian menyingkirkan raksasa kontinental sekaligus langganan Piala Dunia, Kamerun dan Nigeria, untuk melaju ke Turnamen Play-Off. Untuk memastikan kesiapan maksimal jelang laga penentuan, RD Kongo akan menghadapi Bermuda dalam pertandingan persahabatan pada 25 Maret.
Pelatih kepala Sebastien Desabre akan membawa skuad bertabur talenta ke Meksiko, termasuk penjaga gawang Lionel Mpasi yang tampil penuh dalam setiap menit bersama Leopards pada Piala Afrika CAF terbaru. Di lini pertahanan, Mpasi dilindungi bek tangguh Chancel Mbemba dan Aaron Wan-Bissaka, sementara sektor serang memiliki banyak opsi seperti Fiston Mayele, Cedric Bakambu, Yoane Wissa, serta penyerang Al Jazira yang tengah dalam performa impresif, Simon Banza.
Deja vu bisa kembali terjadi bagi Bolivia apabila mereka mampu meraih dua kemenangan beruntun di Monterrey. Tim asal Amerika Selatan ini belum tampil di putaran final global sejak Amerika Serikat 1994, namun posisi ketujuh pada kualifikasi CONMEBOL, yang diwarnai kemenangan epik 1-0 di kandang atas Brasil pada pertandingan terakhir, memberikan alasan bagi Bolivia untuk bermimpi kembali ke Amerika Utara. La Verde tetap aktif di level internasional, termasuk mencatat kemenangan uji coba 3-0 atas Trinidad dan Tobago pada awal bulan ini.
Pelatih kepala Oscar Villegas akan mengandalkan penyerang andalan Miguel Terceros, yang finis sebagai pencetak gol terbanyak kedua pada kualifikasi zona Amerika Selatan dengan tujuh gol, hanya kalah dari delapan gol milik legenda Argentina Lionel Messi dan penyerang Kolombia Luis Diaz. Ramiro Vaca, yang mencetak dua gol pada kualifikasi, memberikan daya dobrak di lini tengah, sementara di lini belakang terdapat pengalaman melimpah melalui penjaga gawang senior Carlos Lampe serta bek Luis Haquin.
Suriname
Wakil Concacaf lainnya di Turnamen Play-Off ini juga nyaris meraih kelolosan langsung, setelah finis di posisi kedua grup di bawah Panama. Meski demikian, A Natio telah mencatat sejarah dengan mencapai fase ini dan bertekad mengamankan tiket Piala Dunia untuk pertama kalinya. Upaya tersebut akan berada di bawah arahan pelatih berpengalaman Henk ten Cate, yang menggantikan Stanley Menzo setelah berakhirnya kualifikasi pada November lalu. Taktikus asal Belanda itu sudah cukup mengenal sepak bola Suriname, setelah sempat menjabat sebagai asisten pelatih tim nasional pada 2023.
Suriname memiliki banyak opsi di lini depan. Richonell Margaret menjadi pencetak gol terbanyak tim pada kualifikasi dengan tiga gol dan akan didukung oleh gelandang Tjaronn Chery serta pemain sayap Sheraldo Becker. Stefano Denswil memberikan kestabilan di lini pertahanan dan harus tampil dalam performa terbaiknya untuk meredam ancaman Terceros serta lini depan Bolivia lainnya.
Irak
Kualifikasi AFC bukanlah arena bagi mereka yang lemah mental, sebagaimana ditunjukkan oleh langkah dramatis Irak menuju Turnamen Play-Off setelah mengalahkan Uni Emirat Arab dengan agregat 3-2 berkat gol penalti pada menit ke-17 dalam leg kedua putaran kelima. Pelatih kepala Graham Arnold kini mengalihkan fokusnya untuk menghadapi Bolivia atau Suriname, dengan harapan membawa Irak kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak Meksiko 1986.
Terlepas dari sejumlah keraguan akibat cedera dalam skuad asuhan pelatih asal Australia tersebut, kualitas tim tetap memadai bagi Lions of Mesopotamia untuk menuntaskan misi mereka. Ali Jasim tampil sebagai bintang pada kualifikasi dengan dua gol, dan penyerang berusia 22 tahun itu hampir pasti kembali diandalkan di Monterrey, begitu pula dengan pencetak gol veteran Aymen Hussein yang mencatat delapan gol pada fase awal. Cedera yang menimpa penjaga gawang berpengalaman Jalal Hassan serta bek kiri Ahmed Yaya membuat strategi serangan penuh yang diusung Arnold harus berjalan dengan efektif.
