Penyerang berbakat yang menuju Piala Dunia FIFA sebagai salah satu bintang terbesar sepakbola, saat Brasil berusaha menemukan kembali tradisi juara mereka di bawah asuhan Carlo Ancelotti.

Vinicius Jr bukanlah sosok yang asing dengan Piala Dunia FIFA. Namun, situasinya kali ini sangat berbeda.
Pada Piala Dunia FIFA 2022, ia baru saja mendapatkan tempatnya di skuad Tim nasional Brasil yang menjadi salah satu favorit. Empat tahun kemudian, ia datang ke panggung dunia sebagai salah satu bintang terbesar sepakbola, saat Brasil berusaha membuktikan kualitas mereka di atas lapangan.
Lalu bagaimana ia menghadapi semua perubahan ini? Apakah situasi baru ini membawa tekanan yang lebih besar? Bintang Real Madrid tersebut tidak merasa demikian.
“Ini bukan sesuatu yang luar biasa,” ujar Vinicius kepada FIFA. “Saya sudah bermain untuk Tim nasional Brasil sejak usia 19 tahun. Dulu saya hanya dianggap sebagai pemain muda berbakat, tetapi sekarang saya berada di garis depan, memimpin tim dan berusaha membawa Brasil kembali ke puncak sepakbola dunia. Ini adalah tanggung jawab besar, dan saya sangat menghargainya.”

Vinicius melakoni debut seniornya bersama Brasil pada 11 September 2019, dalam kekalahan uji coba yang cukup jarang terjadi di bawah asuhan Tite: kalah 1-0 dari Peru.
Ia kemudian tampil dalam 15 pertandingan lainnya dalam perjalanan menuju putaran final Piala Dunia FIFA 2022, namun hanya sekali bermain penuh selama 90 menit. Di Qatar, ia masuk dalam sebelas pertama pada keempat pertandingan saat sang pelatih menurunkan susunan pemain utamanya, mencatatkan total dua assist serta satu gol saat menghadapi Korea Selatan di babak 16 besar.
Canarinho akhirnya tersingkir di babak perempat final Piala Dunia FIFA untuk dua edisi berturut-turut, kali ini oleh Kroasia melalui adu penalti.
“Saya tidak terlalu memperhatikan siapa yang difavoritkan, karena pada akhirnya kami harus turun ke lapangan dan menentukan hasilnya sendiri,” ujar Vinicius. “Kami memiliki tim yang sangat kuat di Piala Dunia terakhir dan hampir tidak pernah kalah, tetapi pada akhirnya kami tetap belum mencapai tujuan kami.”
Setelah dua kampanye Piala Dunia yang mengecewakan, Tite mundur dari posisi pelatih kepala, yang kemudian membawa Seleção memasuki periode yang bergejolak. Tiga pelatih asal Brasil silih berganti memimpin dalam waktu singkat, namun performa dan hasil tetap tidak konsisten, sementara identitas permainan tim di lapangan perlahan memudar. Kemudian, pada Mei 2025, Carlo Ancelotti datang langsung dari Real Madrid. Sejak legenda Los Blancos tersebut mengambil alih, Brasil mencatatkan lima kemenangan, tiga kekalahan, dan dua hasil imbang dalam laga kualifikasi dan uji coba.
Di luar hasil pertandingan, Vinicius berada dalam posisi unik untuk memberikan gambaran tentang metode pelatih asal Italia tersebut—serta bagaimana pengaruhnya terhadap performa tim nasional.
Saat berbicara tentang Don Carlo, ia dengan cepat mengakui bahwa dirinya “tidak objektif”. Hal itu tidak mengherankan; di bawah arahan Carlo Ancelotti, penyerang Brasil itu mencapai level baru dalam kariernya dan kemudian meraih Penghargaan Pemain Pria Terbaik The Best FIFA pada 2024. Reuni ini pun datang di waktu yang sangat tepat bagi Tim nasional Brasil.
“Saya belajar banyak darinya, karena ia datang ke klub saat saya berusia 21 tahun,” ujar Vinicius. “Ia memberi saya kepercayaan diri yang saya butuhkan. Setiap tahun saya bekerja bersamanya sangatlah spesial—dia sejauh ini adalah pelatih terbaik yang pernah saya miliki. Dia adalah salah satu yang terhebat dalam sepakbola, jika bukan yang terbaik.”
Meski dengan pengakuan tersebut, Vinicius menekankan ketenangan dan kepercayaan diri yang ditanamkan Carlo Ancelotti setiap hari—kualitas yang ia yakini sangat dibutuhkan Brasil saat pelatih asal Italia itu mengambil alih.
“Tekanan dalam sepakbola sangat besar, terutama di tim nasional,” ujarnya. “Sudah sangat lama sejak kami memenangkan Piala Dunia FIFA. Kami tahu tekanan di lapangan akan sangat besar, tetapi tetap tenang di luar lapangan bisa membantu kami tampil lebih baik.
“Ini bukan hanya soal sepakbola—dia menciptakan dan menjaga suasana yang santai sehingga semua orang merasa nyaman. Kami sudah bekerja dengan pelatih ini selama beberapa bulan; kami berkembang secara teknis dan taktis, jadi ketika Piala Dunia dimulai, kami akan sangat siap untuk bertanding.”
Menurut Vinicius, Carlo Ancelotti mampu menemukan keseimbangan antara suasana yang lebih santai dan keseriusan yang datang dengan membela Seleção. Ini adalah perpaduan antara lingkungan, talenta, dan performa—mirip dengan masa kejayaan di Madrid bersama Real Madrid. Sang pelatih mengamati, berdiskusi, dan menyempurnakan, tanpa memaksakan sistem yang kaku.
“Sepakbola terkadang terlihat sangat rumit, tetapi ada sosok seperti Ancelotti yang datang dan membuat semuanya terasa sederhana,” ujar sang penyerang.
Fokus kini telah beralih ke penyempurnaan dan penyesuaian akhir. Meski banyak ketidakhadiran pemain di lini pertahanan, laga uji coba terbaru melawan Prancis dan Kroasia sudah memberikan gambaran tentang bagaimana Brasil akan bermain.
Prinsip utama Carlo Ancelotti adalah membangun tim yang mampu menyerang dengan banyak pemain, namun tetap solid dalam bertahan tanpa bola—pesan yang jelas dipahami oleh Vinicius.
“Sekarang semua tim nasional menekankan kekuatan sebagai satu kesatuan,” ujar Vinicius. “Semua pemain ikut turun membantu bertahan, dan dalam menyerang, dia memberi kami kebebasan untuk bertukar posisi serta bermain dengan gaya khas Brasil kami.”
Ia bahkan mengungkapkan hal pribadi: “Dia menyukai pemain Brasil—itulah mengapa dia ada di sini. Dia selalu mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan melatih tim nasional lain.”
Kerja keras dan visi Carlo Ancelotti akan menghadapi ujian pertama yang sesungguhnya pada 13 Juni, saat Brasil memulai kampanye Grup C melawan Maroko di Stadion New York New Jersey, yang juga akan menjadi lokasi pertandingan final.
Bagi Ancelotti dan Vinicius, upaya meraih gelar dunia keenam yang telah lama dinantikan bergantung pada ketenangan dan konsistensi. Sang penyerang menyadari bahwa dirinya kini menjadi standar bagi tim, namun ia juga memahami bahwa Brasil membutuhkan lebih dari itu untuk mencapainya.
“Kami memiliki skuad yang sangat kuat, dengan banyak pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan,” ujarnya. “Namun kami belajar bahwa turnamen ini singkat namun melelahkan, jadi kami membutuhkan semua pemain. Ketika satu atau dua pemain cedera—seperti yang terjadi di Piala Dunia terakhir—hal itu bisa memengaruhi mental tim, jadi kami harus siap menghadapi situasi apa pun.”
