Dias: Portugal Rendah Hati, tetapi Lebih Ambisius dari Sebelumnya

Sang bek berbicara tentang “kegembiraan” tampil di Piala Dunia FIFA, belajar dari Cristiano Ronaldo, dan era baru Manchester City.

FIFA
  • Portugal termasuk di antara favorit juara Piala Dunia FIFA 2026

  • Bek Manchester City Ruben Dias membawa pengalaman, kepemimpinan, dan mentalitas juara

  • Portugal akan menghadapi RD Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia di Grup K

Satu musim lagi, dua trofi lagi. Ruben Dias akan menuju Piala Dunia FIFA 2026 setelah menambah koleksi gelar bergengsinya berkat raihan dua trofi kompetisi domestik bersama Manchester City.

Bek tengah tersebut telah menjadi bagian penting dari mesin juara Manchester City sejak bergabung dengan klub itu pada 2020. Mentalitas itulah yang juga dibawa Dias ke tim nasional Portugal, dan ia membantu negaranya meraih gelar UEFA Nations League kedua tahun lalu.

Pemain berusia 29 tahun itu kini mengincar trofi paling bergengsi di sepakbola internasional dan, seiring semakin dekatnya Piala Dunia, Dias merasa siap sepenuhnya.

“Secara pribadi, saya merasa sangat baik secara fisik maupun mental,” kata Dias, yang sepanjang wawancara berbicara dengan wibawa dan keyakinan yang begitu terlihat dalam cara ia bertahan. “Ini akan menjadi Piala Dunia ketiga saya, dan itu selalu menjadi momen yang menyenangkan bagi negara, bagi kami semua.

“Saya tahu suasana ketika Anda berada di Piala Dunia. Saya tahu betapa istimewanya itu bagi para pemain, para suporter, keluarga kami, dan negara kami. Ini benar-benar sebuah kegembiraan dan pengalaman yang unik. Saya merasa Piala Dunia kali ini akan menjadi sesuatu yang istimewa. Sudah lama semua orang menantikannya.”

MUNICH, GERMANY - JUNE 08: Ruben Dias of Portugal celebrates after winning the UEFA Nations League 2025 final match between Portugal and Spain at Munich Football Arena on June 08, 2025 in Munich, Germany. (Photo by Lars Baron/Getty Images)

Deretan pemain menyerang Portugal yang luar biasa mungkin lebih sering mencuri perhatian, tetapi dengan Dias sebagai pemimpin lini belakang mereka, tim ini memiliki salah satu bek paling berprestasi di sepakbola dunia.

Kuat, dominan dalam duel udara, dan sangat baik dalam penempatan posisi, ia memberikan rasa aman dan kekuatan bagi klub maupun negaranya. Dias memiliki koleksi medali yang sepadan dengan kemampuannya, setelah memenangkan 12 trofi hanya dalam enam tahun bersama Manchester City. Sebagai sosok yang sangat kompetitif, ia menjelaskan bagaimana klub tersebut telah memberikan lingkungan yang ideal untuk berkembang.

“Ada keinginan untuk menang di setiap pertandingan, dalam apa pun yang kami lakukan. Itulah mentalitas klub ini. Itu berlaku untuk para pemain, staf pelatih, direktur, fisioterapis, hingga para koki… Semua orang di sini ingin menang. Tentu saja musim lalu kami memenangkan dua trofi, tetapi kami menginginkan lebih. Itulah tipe tempat yang ingin saya tempati. Itulah tempat yang mendorong saya; itulah tempat yang membuat saya merasa utuh. Perasaan itu masih ada, perasaan bahwa semua orang menjalankan misi ini bersama-sama.”

City akan menjalani misi tersebut dengan pelatih baru setelah kepergian Pep Guardiola yang mengakhiri sepuluh tahun penuh kesuksesan bersama klub.

“Jelas dia sangat berpengaruh, bagi klub maupun bagi masing-masing dari kami secara pribadi,” kata Dias. “Satu era telah berakhir, dan era baru akan segera dimulai. Kami tentu menghargai semua yang telah dilakukan, tetapi juga antusias dan menantikan masa depan.”

Sahabat dekat Dias, Bernardo Silva, juga telah meninggalkan City, tetapi keduanya akan tetap bermain bersama di tim nasional Portugal. Sang bek percaya bahwa hubungan yang erat seperti itu di dalam skuad membuat tim menjadi lebih kuat secara kolektif.

“Itu membuat perbedaan,” ujarnya. “Kami memiliki suasana yang sangat baik di tim nasional, dan itu terbentuk dari hubungan-hubungan kecil yang dimiliki setiap orang, lalu kami menyatukannya. Namun tentu saja, Berni selalu menjadi sosok yang sangat spesial bagi saya. Kami menghabiskan enam tahun bersama di Man City, dan enam tahun itu sangat istimewa.

“Kami akan selalu berbagi kenangan indah itu bersama. Kami menjalaninya semaksimal mungkin dari apa yang bisa kami lakukan. Saya yakin kami berdua merasakan hal yang sama ketika mengatakan bahwa kami menganggap satu sama lain sebagai sosok yang sangat spesial. Sekarang, kami memiliki momen yang sangat istimewa [di Piala Dunia] untuk dinikmati bersama.”

MANCHESTER, ENGLAND - MARCH 17: Bernardo Silva of Manchester City gives the captain's arm band to Ruben Dias after being sent off during the UEFA Champions League 2025/26 Round of 16 Second Leg match between Manchester City FC and Real Madrid CF at City of Manchester Stadium on March 17, 2026 in Manchester, England. (Photo by Visionhaus/Getty Images)

Portugal akan memulai kampanye mereka di Piala Dunia FIFA pada 17 Juni saat menghadapi RD Kongo di Houston Stadium. Enam hari kemudian mereka akan menghadapi Uzbekistan di stadion yang sama sebelum menutup fase grup dengan laga besar melawan Kolombia di Miami pada 26 Juni.

Hanya setahun setelah keberhasilan menjuarai UEFA Nations League – yang diraih lewat kemenangan beruntun atas Jerman dan Spanyol – optimisme sedang tinggi di dalam skuad.

“Saya merasa di setiap kompetisi yang kami jalani, kami terus berkembang,” kata Dias. “Kami memiliki banyak pemain berkualitas. Selain itu, banyak pemain kami bermain di level tertinggi sepakbola, dan itu berarti mereka terbiasa menghadapi tekanan serta memahami seperti apa rasanya tekanan tersebut.

“Meski begitu, setiap kompetisi baru adalah awal yang baru. Bagi saya, hal terpenting adalah saat Anda pertama kali menghadapi kesulitan. Momen-momen itulah yang akan membentuk Anda untuk sisa perjalanan di kompetisi. Cara Anda bereaksi akan mulai menunjukkan, sedikit demi sedikit, seberapa jauh sebenarnya Anda bisa melangkah.”

Manchester City's Rúben Dias: 'If we think too far ahead it will kill us' | Manchester City | The Guardian

Pelatih Portugal Roberto Martinez menggambarkan Dias sebagai “seorang pelatih di lapangan” berkat kemampuan organisasinya dan pemahaman taktisnya. Apakah ia merasa dirinya salah satu pemimpin tim?

“Saya merasa waktu secara alami membuatnya menjadi seperti itu,” jawab Dias, yang telah mencatatkan 74 penampilan bersama tim nasional. “Selain itu, juga karena siapa diri saya sebagai pribadi dan sebagai pemain. Meskipun saya tidak merasa terlalu tua, sekarang saya termasuk salah satu pemain tertua di skuad dan juga salah satu yang paling berpengalaman.

“Saya merasa akan menjadi sebuah kegembiraan menjalani Piala Dunia dalam posisi seperti itu. Saya akan mencoba, seperti yang lainnya, untuk membagikan pengetahuan terbaik yang saya miliki demi membantu kami meraih kemenangan.”

Kapten Portugal di putaran final dunia nanti tentu saja adalah Cristiano Ronaldo. Dias mengungkapkan bahwa mengamati sang penyerang legendaris dari dekat juga membantu membentuk gaya kepemimpinannya.

“Sudah pasti, saya belajar darinya dan juga dari banyak pemain lain, seperti Pepe saat masih bersama tim nasional. Anda selalu belajar, terutama dari seseorang seperti dia [Ronaldo]. Pengalaman sepakbola dan kehidupan yang dimilikinya membuat dia jelas menjadi sosok yang patut dijadikan panutan. Anda berusaha menyerap setiap tetes kecil pengetahuan yang bisa didapat.”

DOHA, QATAR - NOVEMBER 21: Cristiano Ronaldo (R) of Portugal looks on with teammate Ruben Dias during the Portugal Training Session at Al Shahaniya SC training centre on November 21, 2022 in Doha, Qatar. (Photo by Christopher Lee/Getty Images )

Dias, Ronaldo dan rekan-rekannya berusaha meraih keabadian dalam sejarah olahraga dengan menjadi tim Portugal pertama yang menjuarai Piala Dunia FIFA. Hasil terbaik Portugal sejauh ini adalah pada 1966 ketika Eusebio memimpin mereka meraih peringkat ketiga.

Ketika ditanya apakah ada keyakinan bahwa Portugal bisa melangkah hingga menjadi juara di Amerika Utara, Dias menjawab: “Saya merasa lebih dari sekadar keyakinan, ada ambisi untuk melakukannya. Kami tetap berpijak di bumi. Kami tahu betapa sulitnya hal itu dan seberapa keras kami harus bekerja untuk mencapainya.

“Perasaan [keyakinan] itu harus tumbuh seiring berjalannya kompetisi, bersama rasa percaya diri setelah setiap pertandingan, setelah setiap langkah, setelah setiap kesulitan yang berhasil dilewati. Jadi, kami tetap rendah hati dalam menyikapinya, tetapi kami lebih ambisius dari sebelumnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *