Piala Dunia 2026, Panggung Messi dan Ronaldo di Final?

Piala Dunia 2026, Panggung Messi dan Ronaldo di Final?

JAKARTA – Piala Dunia 2026 yang akan digelar dari 11 Juni hingga 19 Juli di tiga negara yaitu Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat bakal menjadi ajang the last dance Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo? Pertanyaan itu akan terjawab di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli 2026.

Kenapa dua maestro lapangan hijau itu berpeluang besar bertemu di laga puncak ajang akbar kulit bundar empat tahunan? Pengamat sepakbola Haris Pardede mempunyai analisa bahwa pertemuan dua mega bintang yang akan mewakili Argentina dan Portugal akan menjadi pertandingan paling banyak ditonton sejagat.

Pengamat yang akrab disapa Bung Harpa ini melihat perjalanan Messi bersama Tim Tango sangat memuaskan. “Tadinya saya pikir Piala Dunia 2022 akan menjadi The Last Dance bagi Messi. Faktanya, dia berhasil mengangkat trofi pertama dan ketiga Piala Dunia bagi Albiceleste,” kata Harpa kepada KBA News, Selasa, 13 Januari 2026.

Penampilan Ronaldo di Piala Dunia 2022 setali tiga uang. Harpa tadinya menilai pemain bertubuh super atletis itu bakal bersinar. Toh, dewi fortuna lebih berpihak kepada Messi. Si Kutu justru yang berhasil menancapkan tajinya ketimbang CR7.

Messi sendiri tutur Harpa melanjutkan kariernya di Major League Soccer (MLS) bersama Inter Miami. Dalam perjalanan, pemain dengan ciri khas tendangan pisang kaki kiri tampil moncer di kualifikasi Piala Dunia 2026. Dia membawa Argentina menjadi juara grup Zona CONMEBOL dengan meraih 38 poin dari 12 pertandingan. Bekas pemain Barcelona itu sukses menyumbang delapan gol.

Harpa sendiri melihat Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan kedua bagi Messi untuk bersinar. “Piala Dunia 2026 akan menjadi pertandingan paling menarik ditunggu kalau Messi dan Ronaldo bertemu di final. Kalau boleh berharap saya ingin melihat Argentina berduel dengan Portugal di laga pamungkas,” ujarnya.

Peluang Argentina tampil di final terbuka lebar. Selain memiliki pemain kaliber seperti Messi, tim ini masih akan ditemani pemain agresif asal klub Atletico Madrid, Julian Alvarez.

Peluang emas lain Argentina tampil di final bisa dilihat dari format kompetisi di Piala Dunia 2026. Tim-tim Amerika Latin khususnya dari Zona CONMEBOL mendapat tambahan jatah 6 tiket lolos langsung dan 1 tiket melalui babak plaf-off.

Faktor Ancelotti

Argentina boleh saja berada di atas angin. Harpa menegaskan lawan terberat anak-anak Lionel Scaloni akan datang dari Brasil (Grup C dengan Maroko, Haiti, dan Skotlandia). Meski skuad Samba memang tidak mempunyai materi pemain seperti di era 2000-an seperti Carlos Dunga dan Ricardo Kaka, namun memiliki pelatih karismatik dari Italia, Carlo Ancelotti.

Don Carletto menurut Harpa menjadi figur sentral di Brasil yang bertabur bintang. Pelatih dengan segudang pengalaman ini dianggap bisa membawa kenyamanan di ruang ganti pemain. Faktor keunggulan lain pelatih asal Negeri Pisa ini adalah dia datang sebagai pelatih sekaligus pemain. “Ancelotti adalah manajer nomor punggung. Sosok kebapakan akan membuat tunduk pemain seperti Vinicius Jr,” katanya.

Secara urutan, di kualifikasi CONMEBOL, Brasil boleh saja berada di urutan kelima. “Namun, Brasil tetap Brasil. Jangan anggap enteng kekuatan tim ini. Tim ini akan tetap menjadi ancaman meski untuk menjadi juara tidak gampang,” ujar Harpa.

Kekuatan Brasil menurut Harpa memang bertumpu pada talenta alam. Hal ini kata dia pernah disampaikan bekas pemain dan pelatih Jacksen F. Tiago. “Jacksen mengatakan kenapa tim Amerika Latin tidak pernah juara. Karena mereka bertumpu pada bakat alam,” kata Harpa menjelaskan pernyataan Jacksen.

Tim Amerika Latin yang bakal menjadi kuda hitam ujar Harpa adalah Uruguay (Grup H dengan Spanyol, Cape Verde, dan Arab Saudi). Biasanya kata dia tim ini selalu dilatih pelatih lokal. Kali ini giliran pelatih eksentrik Marcelo Bielsa yang diberi panggung. Hanya sekali tim ini dilatih pelatih dari luar negeri yaitu Argentina, Daniel Passarella (2000-2001).

“Untungnya Uruguay tergabung di grup enteng (H). Kecuali Spanyol, lawan-lawan Uruguay relatif gampang seperti pendatang baru Cape Verde dan Arab Saudi,” kata Harpa.

Portugal yang menjadi salah satu penantang terkuat dari Zona UEFA, akan mendapat tantangan dari Jerman, Prancis, Spanyol, dan Inggris. Skuad asuhan Roberto Martinez tergabung dalam grup relatif enteng (K) bersama tim pemenang inter konfederasi kecuali dari UEFA, Uzbekistan, dan Kolombia.

Prancis sendiri masih akan ditemani Kylian Mbappe yang sedang berada di usia matang, 27 tahun. Skuad Les Bleus tergabung dalam Grup I bersama tim runner up inter konfederasi, Senegal, dan Norwegia. Adapun Jerman diyakini tidak akan kesulitan melenggang ke babak gugur setelah tergabung dalam Grup E bersama pendatang baru Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *