Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Meningkat Imbas Kebijakan Trump dan Isu Keamanan
Muncul kabar, ribuan orang membatalkan tiket Piala Dunia 2926 mereka karena merasa AS bukan destinasi yang aman bagi wisatawan, terutama bagi imigran dan warga negara asing.

Jakarta – Seruan boikot terhadap Piala Dunia FIFA 2026 kembali menguat di media sosial. Gelombang protes ini dipicu oleh kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi keamanan di AS menjelang turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Kampanye boikot ramai diperbincangkan dengan tagar #BoycottWorldCup, yang banyak digunakan oleh akun-akun internasional. Sejumlah laporan menyebutkan ribuan calon penonton telah membatalkan tiket Piala Dunia 2026 karena menilai Amerika Serikat tidak lagi aman bagi wisatawan, khususnya imigran dan warga negara asing.
Isu ini mencuat setelah Trump melontarkan ancaman politik terhadap Meksiko, salah satu negara tuan rumah bersama Kanada dan AS. Situasi semakin memanas usai terjadinya kasus penembakan Renee Good oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Minneapolis, yang memicu kecaman luas dari kelompok HAM internasional.
Selain itu, pemerintahan Trump juga memberlakukan larangan masuk ke AS bagi warga dari sejumlah negara, seperti Iran, Senegal, Pantai Gading, dan Haiti. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi meluas seiring meningkatnya ketegangan global, sehingga memperkuat sentimen boikot terhadap ajang olahraga empat tahunan tersebut.
Beberapa kelompok sebenarnya telah lebih dulu memprotes tingginya harga tiket dan persoalan penyelenggaraan. Namun, gelombang boikot terbaru disebut-sebut lebih didorong oleh faktor politik, kebijakan luar negeri AS, serta kekhawatiran akan keselamatan penonton asing.
Sejumlah aktivis dan penggemar sepak bola internasional menyatakan bahwa kebijakan imigrasi dan pendekatan politik Trump bertentangan dengan nilai dasar olahraga yang menjunjung inklusivitas, netralitas, dan persatuan lintas negara.
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait seruan boikot tersebut. Tahun lalu, pemerintahan Trump sempat meluncurkan program “FIFA Pass” untuk mempercepat proses visa bagi pemegang tiket Piala Dunia 2026. Namun, kebijakan itu dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran publik terkait keamanan dan imigrasi.
Jika gelombang protes terus meluas, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu turnamen olahraga paling sarat muatan politik dalam sejarah modern FIFA. Meski demikian, hingga kini belum ada indikasi perubahan jadwal maupun format turnamen dari pihak penyelenggara.
Sebagai informasi, Piala Dunia FIFA 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026, dan akan diselenggarakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
