Penyerang Cagliari berusia 20 tahun itu telah memukau pelatih Vincenzo Montella dan berpotensi menjadi bagian dari lini depan Turki di babak play-off UEFA.
-
Kilicsoy kini jadi kandidat untuk memimpin lini depan Turki di babak play-off UEFA bulan Maret
-
Pemain berusia 20 tahun itu telah mencetak empat gol di Serie A sejak menjadi pemain reguler untuk Cagliari pada akhir Desember
-
Pelatih Turki, Vincenzo Montella, sangat ingin mengandalkan dia di jendela internasional mendatang
Para pemain kelahiran 2005 tampak merepresentasikan sebuah generasi emas bagi tim nasional Turki. Kenan Yildiz telah menjelma menjadi bintang di Juventus, Arda Guler memikul tanggung jawab besar di Real Madrid, dan Can Uzun mengawali musim dengan gemilang bersama Eintracht Frankfurt. Sementara para pemain bernomor punggung 10 ini terlihat sangat cocok dengan sistem yang diterapkan pelatih kepala Vincenzo Montella, terdapat pula seorang penyerang bernomor punggung 9 dari generasi yang sama yang siap mengonversi assist mereka menjadi gol, yakni Semih Kilicsoy.
Terakhir kali Turki tampil di Piala Dunia FIFA, pada 2002, keempat pemain tersebut bahkan belum lahir. Turnamen itu tetap menjadi momen bersejarah bagi negara tersebut, dengan raihan peringkat ketiga setelah mengalahkan tuan rumah bersama Korea Selatan pada laga perebutan tempat ketiga. Kini, dalam upaya kembali ke panggung global, skuad asuhan Montella harus melewati Jalur Play-off UEFA C. Mereka akan menghadapi Rumania di Besiktas Park, Istanbul, pada 26 Maret, dengan potensi laga final melawan pemenang pertandingan antara Slowakia dan Kosovo.
Perkembangan pesat
Sejak akhir Desember, Kilicsoy menjadi sosok yang sulit diabaikan. Setelah bergabung dengan Cagliari dengan status pinjaman dari Besiktas pada Agustus 2025, ia mulai tampil sebagai starter reguler di Serie A kurang dari dua bulan lalu, setelah sebelumnya lebih sering masuk dari bangku cadangan. Sudah menjabat sebagai kapten tim Turki U-21 dan secara luas dipandang sebagai talenta luar biasa, sang penyerang dengan cepat memanfaatkan peluang yang didapatkannya.
Sebuah tembakan melengkung spektakuler dari luar kotak penalti saat melawan Pisa mengamankan tempatnya di susunan pemain inti, yang kemudian diikuti dengan gol ke gawang Torino yang layak bersaing untuk Penghargaan Puskas FIFA. Menerima bola di wilayah pertahanannya sendiri, ia melesat maju dalam sebuah solo run yang mengesankan, memamerkan seluruh repertoar kemampuannya. Memadukan dribel yang tenang dengan naluri alami seorang penyerang, Kilicsoy mengombinasikan kontrol bola rapat di ruang sempit dengan kekuatan fisik serta penyelesaian akhir yang bertenaga menggunakan kedua kaki.
Golnya ke gawang Torino terpilih sebagai Gol Terbaik Bulanan Serie A edisi Desember, namun penyerang muda Turki itu belum berhenti sampai di situ. Dalam rangkaian tiga kemenangan beruntun Cagliari, termasuk kemenangan atas Juventus milik Yildiz, ia mencetak gol sundulan ke gawang Fiorentina sebelum menghasilkan sebuah penyelesaian akrobatik spektakuler saat melawan Hellas Verona yang kemudian dikenal sebagai “Semih-rovesciata”, yang maknanya dalam bahasa Turki jauh dari sekadar arti “dermawan”.
Direktur olahraga Cagliari, Guido Angelozzi, bahkan membandingkannya dengan legenda Jerman Gerd Muller berkat gaya bermain dan postur tubuhnya yang kuat. “Kami akan gila jika tidak membelinya—potensinya luar biasa. Montella mengatakan kepada kami bahwa dia adalah pemain yang sangat menarik,” ujar Angelozzi menjelang laga melawan Roma.
Kepercayaan Montella
Pada usia 18 tahun, sembilan bulan, dan 20 hari, Kilicsoy melakoni debut internasional seniornya melawan Italia di bawah arahan Montella, yang kemudian memasukkannya ke dalam skuad UEFA EURO 2024, di mana ia sempat tampil singkat pada babak 16 besar. Sejak saat itu, sang penyerang memfokuskan diri memimpin tim Turki U-21 sebagai kapten sembari menunggu kesempatan berikutnya. Pekan ini, Montella menyambangi Cagliari untuk memantaunya secara langsung, sekaligus mengungkapkan bahwa ia menjalin komunikasi rutin dengan pelatih kepala Fabio Pisacane guna memonitor perkembangannya di Italia.
“Dia mengalami peningkatan yang luar biasa dalam dua bulan terakhir,” ujar Montella kepada surat kabar Italia Il Messaggero. “Sekarang dia harus menjaga keseimbangan itu agar terus berkembang. Dia sangat teknis dan memiliki insting mencetak gol. Dia membutuhkan konsistensi yang lebih baik sepanjang pertandingan, tetapi saya melihatnya fokus dan termotivasi.” Sebelumnya, Montella juga pernah memaksimalkan potensi penyerang dengan profil serupa, yakni Mario Balotelli, saat menangani Adana Demirspor.
Meski Balotelli memiliki postur yang jauh lebih tinggi dibandingkan Kilicsoy yang setinggi 1,78 meter, keduanya sama-sama memiliki kekuatan fisik saat membelakangi gawang, tembakan yang luar biasa, serta kemampuan berlari meninggalkan lawan dengan ritme mereka sendiri. Dengan talenta kreatif seperti Yildiz, Guler, dan Uzun yang menyuplai peluang, Turki asuhan Montella tengah membina sebuah generasi sarat potensi—dan menghadapi ekspektasi yang sama besarnya. Misi untuk kembali ke Piala Dunia FIFA tampak seolah dirancang khusus bagi mereka.


