Joey Pelupessy Usai Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026: Hati Saya Hancur

Kegagalan Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026 meninggalkan luka mendalam bagi para pemain. Salah satu yang paling terpukul adalah gelandang Timnas Indonesia, Joey Pelupessy, yang secara jujur mengakui hatinya hancur setelah peluang tampil di turnamen sepak bola terbesar dunia itu sirna.
Bagi Joey Pelupessy, Piala Dunia 2026 bukan sekadar kompetisi biasa. Turnamen tersebut dinilainya sebagai kesempatan paling realistis sekaligus satu-satunya untuk tampil di ajang Piala Dunia sepanjang kariernya.
Timnas Indonesia Gugur di Babak Penentuan
Langkah Timnas Indonesia terhenti di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Kepastian gagal lolos didapat setelah skuad Garuda menelan dua kekalahan beruntun pada Oktober 2025.

Saat itu, Timnas Indonesia yang masih ditangani Patrick Kluivert harus mengakui keunggulan Arab Saudi dengan skor 2-3, lalu kembali tumbang dari Irak 0-1. Dua hasil buruk tersebut membuat Indonesia tersingkir dari persaingan menuju Piala Dunia 2026. Tak lama berselang, Patrick Kluivert resmi berpisah dengan PSSI.
Joey Pelupessy mengaku kegagalan tersebut terasa sangat menyakitkan karena peluang lolos sebenarnya sudah berada di depan mata.
“Jika Anda kalah dua kali, Anda memang tidak pantas mendapatkannya. Tapi kami hampir lolos dengan cepat, lalu tiba-tiba semuanya berakhir. Saya benar-benar hancur,” ujar Joey Pelupessy, dikutip dari Voetbal Primeur oleh Okezone, Jumat (9/1/2026).
Ia menambahkan bahwa rasa kecewa itu tidak hilang dalam waktu singkat.
“Perasaan itu berlangsung setidaknya selama dua minggu. Saya bisa saja pergi ke Piala Dunia. Ini satu-satunya kesempatan saya, seratus persen,” lanjutnya.
Realistis Tatap Piala Dunia 2030
Kegagalan di Piala Dunia 2026 membuat Joey Pelupessy mulai berpikir realistis tentang masa depannya bersama Timnas Indonesia. Pemain Lommel SK tersebut menyadari bahwa faktor usia menjadi tantangan besar untuk Piala Dunia berikutnya pada 2030.

Dalam lima tahun ke depan, Joey Pelupessy akan berusia 37 tahun, usia yang tidak lagi ideal bagi seorang pemain untuk bersaing di level tertinggi.
“Dalam lima tahun, saya akan berusia 37 tahun. Jangan pernah mengatakan tidak mungkin, tetapi saya lebih suka bersikap tenang dan realistis. Seharusnya itu terjadi sekarang,” tutup Joey Pelupessy.
Kegagalan ini menjadi pelajaran pahit, bukan hanya bagi Joey Pelupessy, tetapi juga bagi Timnas Indonesia secara keseluruhan. Harapan besar yang sempat menyala kini harus padam, meninggalkan pekerjaan rumah besar untuk menatap masa depan sepak bola nasional.
