Arteta: “Kami Tidak Cukup Baik,” Arsenal Terancam Setelah Imbang Lawan Wolves


Ambisi Arsenal F.C. untuk mengakhiri puasa gelar Premier League sejak 2004 kembali mendapat ujian berat. The Gunners hanya mampu bermain imbang 2-2 saat bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers F.C. di Molineux Stadium, Kamis (19/2) dini hari WIB.

Hasil yang terasa seperti kekalahan itu membuat keunggulan Arsenal di puncak klasemen terpangkas menjadi lima poin dari Manchester City F.C. yang masih memiliki satu laga tunda.

Arteta Akui Performa Tak Konsisten

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, tidak menutupi rasa kecewanya. Ia menilai timnya pantas menerima kritik karena gagal menjaga konsistensi dalam dua laga terakhir.

“Sangat mengecewakan. Kami harus menerimanya. Kami harus mengkritik diri sendiri karena itu tidak cukup baik. Dalam beberapa bulan terakhir, kenyataannya kami tidak konsisten di liga,” ujar Arteta.

Menurutnya, Arsenal gagal menjalankan hal-hal mendasar dengan baik, terutama di babak kedua ketika tekanan tuan rumah meningkat.

Arsenal Sempat Tampil Meyakinkan

Arsenal sebenarnya memulai laga dengan impresif. Bukayo Saka yang kembali dimainkan sebagai gelandang serang langsung memberi dampak. Pada menit kelima, ia menanduk umpan akurat dari Declan Rice untuk membawa timnya unggul 1-0. Gol tersebut sekaligus mengakhiri paceklik gol Saka dalam 15 pertandingan di semua kompetisi.

Di tengah cuaca bersalju yang menyelimuti Molineux, Arsenal kembali menggandakan keunggulan pada menit ke-56. Umpan terukur dari Gabriel Magalhães diselesaikan dengan sepakan keras oleh Piero Hincapié, membuat skor menjadi 2-0 dan Arsenal tampak berada di jalur aman.

Kehilangan Kendali di Babak Kedua

Namun, keunggulan dua gol justru menjadi awal petaka. Arsenal kembali menunjukkan masalah lama: kehilangan kontrol permainan.

Wolves memperkecil ketertinggalan lewat gol indah Hugo Bueno. Pergantian pemain yang dilakukan Arteta, termasuk menarik keluar striker Viktor Gyökeres, tak mampu meredam tekanan tuan rumah.

Petaka datang pada masa tambahan waktu. Miskomunikasi fatal antara kiper David Raya dan Gabriel membuat bola liar jatuh ke kaki Tom Edozie. Tembakan Edozie sempat membentur Riccardo Calafiori sebelum akhirnya bersarang di gawang Arsenal. Skor berubah menjadi 2-2.

“Sulit sekali menerimanya. Di babak kedua kami tidak tampil sebagaimana mestinya untuk memenangi pertandingan Liga Primer. Hal-hal dasar yang harus kami lakukan justru dilakukan dengan sangat buruk, satu demi satu. Akhirnya kami kehilangan dominasi dan kontrol,” kata Arteta.

“Di menit terakhir kami membayar harganya. Kami harus melakukan hal-hal mendasar dengan jauh lebih baik.”

Peringatan Serius dalam Perburuan Gelar

Hasil di Molineux menjadi kali kedua secara beruntun Arsenal gagal mempertahankan keunggulan di liga, setelah sebelumnya ditahan imbang Brentford. Sepanjang 2026, The Gunners telah kehilangan 11 poin dari delapan pertandingan—angka yang terlalu mahal dalam persaingan ketat melawan Manchester City.

Arsenal kini menghadapi jadwal berat, termasuk derby London utara melawan Tottenham Hotspur F.C. serta laga kandang kontra Chelsea F.C. awal Maret mendatang.

Bayang-bayang kegagalan dua musim sebelumnya kembali menghantui. Tekanan pun semakin terasa, bahkan terlihat dari ketegangan antarpemain saat peluit akhir dibunyikan.

Meski demikian, Arteta menegaskan timnya harus bangkit.

“Anda harus melalui periode sulit. Ketika menghadapi momen seperti ini, kami harus berdiri tegak dan menunjukkan seberapa besar keinginan serta kualitas kami,” tutupnya.

Hasil imbang ini bukan sekadar kehilangan dua poin, melainkan sinyal bahaya bagi Arsenal. Jika ingin benar-benar mengakhiri puasa gelar, konsistensi dan ketenangan dalam mengelola pertandingan menjadi harga mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *